Judul : Yang Mengenal Dirinya, Yang Mengenal Tuhannya
Karya : Jalaluddin Rumi
Harga : Rp. 59.000,- (HC)
Harga : Rp. 45.000,- (SC)
Penerbit : Pustaka Hidayah
Islam, sebagai agama samawi yang terakhir dan paling komprehensif, menekankan bahwa Tuhan sama sekali bersifat transenden dari ciptaan-Nya. Terhadap pernyataan ini, kaum sufi sepakat sepenuhnya. Mereka berkata, “Dengan rupa apa pun engkau membayangkan Tuhan, Dia tetap berbeda dari bayanganmu.” Namun pada saat yang sama, mereka meyakini bahwa Tuhan juga bersifat imanen, selalu ada di dalam semua ciptaan-Nya. Bahkan, mustahil bagi manusia untuk mengetahui Tuhannya kecuali melalui ciptaan-Nya. Menurrut kaum sufi, ciptaan yang paling dekat dan paling mudah untuk mengantar kepada pengenalan Tuhan adalah diri manusia sendiri. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Judul : Kidung Rumi, Puisi dan Mistisme dalam IslamKarya : (Analisa Kritis Annemarie Schimmel, William C. Chitick…hingga Victoria Holbrook)
Harga : Rp.34.000,-
Penerbit : Risalah Gusti
Masuk ke dalam larik-larik puisi Maulana Jalaluddin Rumi seakan memasuki dunia asing yang indah, penuh kejutan-kejutan, yang kadang berseberangan dengan logika umum. Tetapi justru keunikan dan keaslian imajinatif Rumi onilah yang membawa keutuhan puisi-puisinya ke dalam penjiwaan pembacanya. Rumi menjadi symbol kepiawaian memainkan kata: kecermatan dan ketangkasannya menyelipkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits ke dalam puisinya, keahliannya menyisipkan perkataan-perkataan kaum Sufi ke dalam kidung-kidung indahnya, sulit dicari tandingannya.
Karya : Reynold A Nicholson
Harga : Rp.13.500,-
Penerbit : Pustaka Firdaus
Sajak-sajak yang terkumpul dalam buku ini merupakan petikan dari Masnawi, Diwan-I Syamsi Tabriz dan Fihi Ma Fihi, suatu karya sastra yang sarat dengan ajaran dan pengalaman tasawuf.
Di sini Rumi memberikan kepada pembacanya suatu perasaan yang luas dan bebas, karena ketidakpeduliannya terhadap kepaduan logis, keberaniannya menggunakan istilah-istilah umum, dan melimpahnya pelukisan-pelukisan dari sesuatu yang amat sederhana dan biasa terjadi. Sajaknya mirip cakrawala samudra: tiada batas, tiada garis pemisah yang tegas antara “kulit luar” dan “inti” doktrin—sementara pengertian batinnya disampaikan secara rinci, halus dan mengagumkan.


Posting Komentar
0Komentar